Ratusan monyet di tempat wisata Gua Kreo terancam punah. Mereka akan terusir dari habitatnya setelah pembangunan waduk jatibarang dimulai tahun ini. Selain itu APBD kota Semarang yang tak kunjung disahkan membuat anggaran makan untuk ratusan monyet itu tak bisa dicairkan.
“Sudah sebulan ini tak ada anggaran makan untuk monyet. Tapi saya kasihan dengan para monyet, jadi sementara saya ambilkan uang dari kantong pribadi,” terang Kepala Unit Pariwisata Gua Kreo Asron.
Ditahun 2009 lalu anggaran makan untuk para monyet yang berjumlah hampir 400 ekor ini sebanyak Rp.400.000 untuk satu bulan. Dan tahun ini diperkirakan naik meski tidak diketahui berapa jumlahnya.
“Idealnya kenaikan bisa seratus persen karena selama ini dengan uang sebesar itu kami hanya mampu memberi makan satu jenis makanan untuk mereka, dan monyet hanya mengharapkan makanan tambahan dari para pengunjung,” jelas Asron.
Pengunjung di Gua Kreo tidaklah banyak lokasinya yang jauh dan kurang terawat tidak menjadi daya tarik wisatawan. Padahal ongkos masuk yang hanya Rp.5000 bisa untuk menambah anggaran makan bagi monyet disana.
Kepunahan monyet disana memang sudah diambang batas, karena pembangunan waduk Jatibarang yang dibangun untuk mengendalikan banjir yang selalu melanda Semarang telah dimulai dan mendekati habitat monyet di Gua Kreo.
“Kami perkirakan tahun 2011 proyek ini selesai, saat ini lahan yang belum dibebaskan tinggal 30%. Dan kita yakin pembangunan ini tak akan mengusir monyet dari habitatnya karena pimpinan proyek akan meminta bantuan ahli monyet dari UGM agar monyet tidak terganggu,” ujar Ketua Komisi D Bidang Pembangunan DPRD Jateng Rukma Setyabudi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar