Senin, 01 Februari 2010

Menghargai


Tradisi masyarakat Jawa dalam menyambut bulan Rejeb tahun Saka, terus mengalami mimikri agar tetap hidup di masyarakatnya. Kini bukan lagi sekedar mitos yang mengikat tradisi itu,lambat laun mengalami transformasi pemikiran. Inilah festival pohon. Sebuah tradisi baru yang mencerminkan kearifan lokal, dengan menjadi “penumpang gelap” tradisi nyadran yang berbasis mistik.

Siang itu warga dusun Nongkosawit kecamatan Gunungpati Semarang sudah berkumpul di jalan protokol dusun tersebut. Sebuah panggung sederhana berukuran 3m x 4m berdiri kokoh dengan dekorasi seadanya.

Di sepanjang jalan, beberapa warga dengan pakaian adat jawa berkelompok-kelompok, menyesuaikan pakaian mereka. Di bagian tengah, kelompok laki-laki bersurjan tampak memanggul sebuah tandu yang dipayungi di sisi kanan dan kirinya. Tak seperti dalam film-film kungfu hongkong klasik, dimana tandu itu berisi seorang putrid cantik, namun di Nongkosawit ini, tandu tersebut ternyata “hanya” berisi sebuah bendhe dan sebuah bedhug. Bendhe adalah salah satu alat musik gamelan yang bernada pentatonis, sedangkan bedhug adalah alat musik yang menyerupai kendang.

Tak berapa lama, rombongan manusia dusun dengan pakaian macam-macam ini bergerak menyusuri jalan dusun. Sambil membunyikan tetabuhan dan bersorak sorai, barisan orang-orang udik ini mengawal dua buah tandu lain, yang berisi bibit-bibit aneka tanaman dan hasil pertanian. Tampak mengelilingi tandu-tandu ini, empat orang manusia muda yang berdandan layaknya kera dalam pewayangan.

Setiap kali mereka melewati mata air, sang pemimpin rombongan menghentikan pasukannya. Ia lari dan bersujud di mata air tersebut lalu memeriksa pepohonan bertype penyerap air seperti pohon beringin, gayam, preh, maupun ipik. Ketika mendapati ranting atau tangkai dalam pohon itu yang tidak sehat, maka ia komat-kamit membaca doa, kemudian memangkasnya. Termasuk saat menemu benalu.

Inilah festival pohon, sebuah kegiatan yang bukan termasuk budaya tradisi, namun menyusup dan ber-mimikri menjadi tradisi. Acara utama kegiatan ini sebenarnya Nyadran Dusun.

Menurut Widodo, ketua komunitas seni Kandanggunung yang memprakarsai festival pohon ini, dalam nyadran dusun biasanya kegiatan difokuskan untuk membersihkan dusun.

“Kami mencoba membuat terobosan dengan menambahkan acara festival pohon ini. Tujuannya agar tidak ada rantai yang putus antar generasi. Khususnya dalam hal interaksi dengan lingkungan. Yang utama adalah pembelajaran kepada anak-anak dan remaja tentang arti penting menjaga lingkungan,” kata Widodo.

Riyanto (19), salah satu anggota karang taruna setempat mengaku bahwa sejak kecil ia sudah dibiasakan ikut nyadran oleh keluarganya. Namun impresi yang didapat justru mengarah ke hal-hal mistik yang irasional.

“Itu membuat kami, anak-anak muda di dusun ini menjadi apatis. Masak kami harus menerima logika bahwa sebuah bendhe yang merupakan buatan manusia, memiliki kekuatan gaib. Itu kan tidak mungkin,” kata Riyanto.

Festival pohon

Hanya saja dalam lima tahun terakhir situasi berubah. Pelan namun pasti anak-anak dan remaja mulai bersedia bergabung. Itu terjadi sebagai akibat dimasukkannya unsure festival pohon sebagai salah satu mata acara resmi dalam nyadran kampong.

Para remaja dan anak-anak itu bukan lagi terlibat sebagai peserta aktif atau bahkan penonton karena keterpaksaan. Mereka kini sudah menjadi subyek dan secara aktif ikut mewarnai penyelenggaraan nyadran kampong.

“Ide membagi bibit tanaman kepada warga yang memiliki tanah kosong dan juga melakukan pembibitan adalah sebagian ide kecil kami,” kata Suwarti, seorang remaja putrid.

Widodo beserta Agus Sumanto dan Bagus Jati Waluyo, merupakan tokoh-tokoh yang ada dibalik transformasi mental warga Nongkosawit.

“Kami harus akui bahwa sampai sekarang di Nongkosawit ini ada dua keyakinan. Tapi jangan salah, mereka tetap bersatu untuk event nyadran dusun. Yang pertama adalah kelompok tua yang meyakini dan menganggap sacral kalau bendhe itu memiliki kekuata gaib. Sedangkan kelompok kedua, meski berpikir lebih rasional tapi mereka mampu memahami dan menghormati bendhe itu sebagai sebuah karya budaya. Jadi dalam hal ini tidak ada masalah,” kata Widodo.

Ide penyelenggaraan festival pohon itu, diawali dari kegelisahan anak-anak muda dusun itu ketika mendapati banyaknya pepohonan yang ditebang. Kegelisahan itu terakumulasi ketika enam mata air di dusun itu ikut mengering.

Anak-anak muda itu lalu mendatangi orang-orang tua untuk melakukan riset kecil-kecilan mengenai jenis-jenis pohon yang mampu menangkap air. Interaksi dengan komunitas seni kandanggunung yang mayoritas pegiatnya adalah warga nongkosawit ikut menjadi katalisator.

“Lalu muai enam tahun lalu, kami rutin mengadakan festival pohon sebagai bagian tak terpisahkan dari Nyadran Dusun. Saat itu kami memberi penghargaan kepada warga masyarakat yang sanggup menjaga pepohonan hingga mencapai usia tua,” kata Widodo.

Selain itu ada pula penghargaan kepada anak-anak yang sudah ikut peduli dan gemar bertanam pohon. Penghargaan lain diberikan kepada warga, yang memiliki dan merawat tanaman langka, tanaman obat, dan yang konsisten memperdalam ilmu tentang pepohonan.

Jika biasanya festival identik dengan lomba, komunitas seni Kandanggunung mencoba mengembalikan arti festival sebagai sebuah event berapresiasi. Sehingga penghargaan yang diberikan bukan berpa materi, namun berupa bibit pohon siap tanam berbagai jenis.

Penyelenggaraan festival pohon ini bukan berlangsung mulus setiap tahunnya. Factor pendanaan menjadi maslah utama. Namun melalui musyawarah warga, disepakati bahwa pihak sponsor dari luar bisa berperan dalam kegiatan tersebut.

“Nyadran Dusun harus tetap berjalan sebagaimana biasanya. Namun warga juga harus mulai mengerti makna-makna simbolik yang ada dibalik kegiatan tersebut. Bagaimanapun, nenek moyang kami selaku pendiri dusun tentu memiliki alasan tertentu yang kami yakin itu positif terkait penyelenggaraan Nyadran Dusun. Tugas kami adalah me-rasional-kan makna simbolik itu sebagai pembelajaran kepada rantai generasi berikutnya,” imbuh Sutarno, salah satu sesepuh dusun.

Dengan festival pohon, kini pemandangan dusun Nongkosawit lebih hijau, lebih sejuk udaranya, dan masyarakatnya juga menjadi lebih terbuka. Enam titik mata air yang ada, kini sudah mengalir sebagaimana mestinya. Semakin hari, lingkungan di sekitar mata air juga semakin hijau dan sejuk, oleh pepohonan berkarakter penangkap air.

Rasionalitas sebuah mitos gaib, yang mampu melahirkan kearifan local.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar